Jul 05

Sekitar tahun 2000-2001, ketika masih aktif di forum diskusi milik lembaga pendidikan tempat saya dulu bekerja, saya sempat terlibat diskusi hangat "melawan" seseorang yang menurut saya melakukan pemburukan nama baik salah satu staf (yang senior) di bagian lain. Waktu itu masalahnya sendiri dapat diselesaikan dengan cepat. Namun demikian, seorang teman sempat nyeletuk: "Elo sih Get, war melulu," yang sedikit-banyak mengindikasikan adanya damage yang terjadi.

Lalu saya mendapatkan sebuah saran yang sangat baik oleh salah seorang (bapak) senior yang masih saya ingat sampai sekarang:

"Jika menerima post yang membawa muatan negatif, jangan segera dibalas. Biarkan post itu selama 2 jam. Setelah 2 jam, baru kunjungi kembali post tersebut. Jika saat itu di hati masih terasa panas, terlepas siapa benar atau salah atau tidak 2-2nya, tunggu lagi selama 2 hari. Jika setelah 2 hari keadaannya masih sama, tunggu selama seminggu lagi."

Walau kadang saya suka "iseng", nasihat ini termasuk berjasa menyelamatkan saya dari beberapa insiden yang tidak perlu (dan memang tidak terjadi).

Terus terang, post ini saya tulis untuk mengingatkan diri saya sendiri. Beberapa perkara yang saat ini menurut saya sulit dimengerti, sementara ini mungkin yang terbaik adalah untuk tidak memperoleh penjelasan.

Atau bahkan jika "sementara" ternyata "selamanya", well.. I did say that I’m just a pail, didn’t I?

Bertahanlah teman, engkau berhak memiliki jeda, sepanjang apapun itu.

Jul 03

Think About His Love
(c) Walt Harrah

Think about His love
Think about His goodness
Think about His grace
That brought us through

For as high as the heaven’s above
So great is the measure of our Father’s love
Great is the measure of our Father’s love

How could I forget His love
How could I forget His mercy
He satisfies, He satisfies
He satisfies my desires
Great is the measure of our Father’s love

Download Lagu (MP3, self-recorded, unedited, 1.64 MB)

Beberapa minggu terakhir ini adalah minggu yang pernuh berkat, secara rohani khususnya. Tuhan mengijinkan saya (lebih tepatnya: membuat saya) untuk masuk ke dalam posisi seorang observer.

Yang saya banyak (dan sedang) belajar adalah: seorang observer haknya nol untuk membuat penilaian. Apalagi penghakiman. Apalagi self-righteousness. Seorang observer adalah seorang intercessor in the making. Sebuah jembatan. Sebuah ember, kadang untuk menampung curhat, tapi seringkali cukup untuk sekedar ada, standing by, untuk menangkap gesture yang samar.

Setelah Nabi Elia menumpas penyembah-penyembah Baal, Ratu Izebel dengan amat berang bernazar untuk menghabisi nyawanya. Singkat cerita, Elia lari. Dalam keletihan dan kegundahannya (dan mungkin kekesalannya), Elia disapa oleh Tuhan: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku."

Tuhan seolah tidak menggubris dan malah menyuruhnya pergi untuk menyelesaikan tugasnya. Namun suatu kekuatan ternyata diberikan Tuhan: "Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia."

(Kotbah Bpk. Paul Wenas, diambil dari 1 Raja-raja 19:1-18. Kebaktian Pemuda GBI Api Kemuliaannya, c.a. 1997-1998).

Sobat, lagu ini bukan kotbahku, atau untuk mengguruimu. Jauh dari hal itu dan sejenisnya. This song is just one of my (hopefully gentle) gestures, that I’m somehow here, with the other 6,999 people. That we’re surviving together, struggling together. And particularly: that you’re not alone. And yes, I’m not talking about God (He’s Immanuel). We are somehow here.

Just think about His love. Together.

Apr 15

Saya telah membaca blog waiterrant.net dengan setia sejak 3 bulan terakhir ini dan senantiasa dijamu dengan baik dan dididik (secara samar) oleh tulisan-tulisannya. Post terakhirnya kurang lebih menunjukkan hal itu (soal didikan):

CEOs say how you treat a waiter can predict a lot about character
(USA Today, 14 Apr 2006)

Office Depot CEO Steve Odland remembers like it was yesterday working in an upscale French restaurant in Denver.

The purple sorbet in cut glass he was serving tumbled onto the expensive white gown of an obviously rich and important woman. “I watched in slow motion ruining her dress for the evening,” Odland says. “I thought I would be shot on sight.”

Thirty years have passed, but Odland can’t get the stain out of his mind, nor the woman’s kind reaction. She was startled, regained composure and, in a reassuring voice, told the teenage Odland, “It’s OK. It wasn’t your fault.” When she left the restaurant, she also left the future Fortune 500 CEO with a life lesson: You can tell a lot about a person by the way he or she treats the waiter.

(baca lebih banyak insight dari sumbernya…)

Ini bukan untuk menunjukkan betapa mulianya saya sebagai seorang manusia, tetapi sejujurnya saya lega dan bangga karena orangtua saya berhasil membesarkan anak-anaknya untuk tidak memiliki "situational value system", seperti yang dicetuskan salah satu CEO.

Sebagai seorang Kristen, kita dilarang untuk menghakimi orang lain. Ah, ini juga berlaku bagi pemeluk kepercayaan lain. Tetapi menebak karakter seseorang adalah kemampuan yang perlu dimiliki banyak orang selama mereka masih hidup di bumi ini (dan berinteraksi satu sama lain). Banyak keputusan yang memerlukan pengamatan yang baik tentang pihak-pihak yang berkaitan. Dan mengamati bagaimana seseorang memperlakukan pelayan restoran akan memberikan gambaran tentang dirinya secara jujur.

Ngomong-ngomong, adik saya juga di dalam industri F&B. Mungkin juga ini sebabnya mengapa saya cenderung melihat pekerjaan waiter dari sudut yang sedikit berbeda dari banyak rekan-rekan saya. Bukan maksudnya mereka memperlakukan waiter dengan buruk lho, cuma "beda" :) Saya selalu melihat adik saya dalam diri orang-orang yang melayani saat pergi makan. Satu hal yang masih belum bisa saya lakukan dengan sukses adalah memberi tip yang baik. Di Singapore, ada service charge wajib sebesar 10% dan di banyak restoran, Anda akan dilayani oleh lebih dari 1 waiter. Jadi, tidak ada gambaran yang jelas berapa banyak Anda harus memberi tip. Hehe, saya tahu ini alasan yang dicari-cari, sudah sepatutnya saya menambah 5-10% di atas 10% yang wajib tadi =P

Terima kasih buat tip-nya, Waiter.

Apr 02

Sebenarnya nggak begitu tepat dibilang sebagai saingannya Friendster, karena arahnya lebih ke dating. Analisa saya, mungkin ketimbang membeli Facebook sebesar $2.1 milyar, Google lebih memilih untuk mengembangkan social networking-nya sendiri. Lagipula sudah ada Orkut di tangan, ngapain beli yang baru? Lebih baik pendayagunaan departemen R&D-nya dimaksimalkan.

Muncullah yang akan menjadi trend baru: Contextual Dating. Apa itu Contextual Dating? Berikut ini jawaban yang diambil dari bagian FAQ dari produk Google yang tergres: Google Romance.

6. What is Contextual Dating?
It’s a free date plus the added accrued value of the past decade’s worth of post-Industrial Age online marketing genius, all tied into a real-time, video-based, GPS-tracked, psychographically astute and environmentally pervasive promotional system.

Wuih, keren. Saya sendiri nggak ngerti maksudnya apa hehehe. Tapi setelah mengikuti tour yang disediakan, jadi lumayan paham. Silakan membaca sendiri agar lebih jelas.

Karena masih baru banget, saya iseng juga memasukkan profile saya ke sana. Lumayan, kalau Anda mencari "geek in singapore", saya sekarang no #1 nih ^_^

Kalau sampai saat ini masih belum ngeh juga, berarti: Selamat.. Anda dengan sukses telah dikerjain oleh Google beserta ratusan blogger lainnya dalam rangka April’s Fool.. ^___^

Mar 18

(saya baru nge-reply pertanyaan dari milis tentang membeli komputer seperti di Mangga Dua, Jakarta. Berikut ini adalah reply saya yang sudah dirapikan)

Update 2006.03.19:
Tambah keterangan di point #10 tentang USB port di front panel-nya casing. Thanks, ruben.

Seperti yang sudah banyak di-reply sebelumnya: di Sim Lim Square dan Funan IT Mall. Banyak orang yang bilang di SLS harganya relatif lebih murah daripada di Funan tapi di Funan service-nya lebih baik. Tapi lagi, pengalaman tiap orang beda-beda.

Beberapa bulan yang lalu saya sempat membeli beberapa unit untuk kantor dan teman-teman. Sebelumnya saya sempat baca-baca di forum HardwareZone. Dari membaca, toko-toko yang saya simpulkan lumayan ok (harga, service, (support?)) di SLS:

  • VideoPro
  • Fuwell
  • Bell
  • The Hardware Place
  • Laser

Lalu yang mungkin perlu lebih "hati-hati" (caveat emptor -> silakan diterjemahkan secara bebas =P):

  • Costronic
  • Best Buy Bargain

(kedua toko di atas harganya murah-murah, tapi bagi beberapa member di HardwareZone ini berarti "resiko" yang lebih besar dan beberapa benar-benar punya pengalaman buruk.. tapi sekali lagi Anda bisa mengalami hal yang sama di toko yang "seharusnya lebih baik" =)

Waktu itu saya jadinya banyak beli di VideoPro. Cuma perlu sabar-sabar kalau belanja di situ, terutama waktu weekend, kalau banyak customer mereka sering kewalahan, bisa nunggu lumayan lama baru dilayani. Tapi kalau sudah dilayani, setiap dari mereka hanya fokus ke 1-3 pembeli saja, jadi biasanya Anda akan mendapatkan pelayanan yang baik, rekomendasi dsb. Tapi usahain jangan ngendonin si staff toko terlalu lama juga (lama mutusin beli yang mana, nawarnya kengototan, dsb.), gunakan akal sehat :) O iya, soal nawar, saya sih biasanya gak banyak nawar di luar pricelist mereka. Ya ada sih nawar-nawar dikit (yang biasanya nggak dikasih =P) minimal untuk memberi kesan bahwa duit kita masih berseri alias nggak nyetak sendiri hehe. Tapi sejauh ini, dalam setiap pembelian, setelah semua total dihitung, harganya dia kurangin sendiri $10-20. Lumayan. (Menurut saya ini cara jualan yang baik: manage your customer’s expectation =)

Cara saya belanja di SLS:

  1. Research dulu dari Internet mau beli apa.
  2. Bawa kalkulator.
  3. Langsung ke Lt. 4, kebanyakan toko komputer ada di Lt. 4-5 (Lt. 6 juga ada sih, tapi saya jarang ke sana).
  4. Terutama weekend, naik ke atas lewat eskalator supaya dapat banyak brosur/pricelist.
  5. Kunjungi toko-toko yang penting/baik, ambil pricelist dari toko mereka (kalau belum dapat dari perjalanan di eskalator).
  6. Di Lt. 4 ada tempat telepon umum yang ada meja tapi teleponnya cuma satu, nah ini bisa dipakai untuk membandingkan harga dari brosur, hitung-hitungan dsb.
  7. Perhitungan harga tidak perlu terlalu akurat, soalnya barang yang ada di pricelist kadang-kadang nggak ada, kira-kira aja. Lalu tentukan tokonya.
  8. Pergi ke toko. Setelah dilayani, langsung paparkan konfigurasi yang ingin dibeli. Kalau barang nggak ada, tanya pendapat/rekomendasi mereka (ini mungkin perlu sedikit "seni". Kalau bersikap kepinteran, mereka bisa sebel (nggak tahu kan mereka di bisnis ini sudah berapa lama). Kalau bersikap terlalu polos, Anda bisa dianggap remeh atau bahkan digetok. Inilah sebabnya kita perlu toko yang baik, serta penjaga toko yang baik juga.)
  9. Di sela-sela konfigurasi, tanya juga tentang ongkos merakit (assembling fee) (di VideoPro kalau beli di atas $nnn biasanya gratis).
  10. Jangan beli casing yang terlalu murah (berhubungan dengan power supply). You get what you paid for. Biasanya saya beli yang sekitar $70-80 (di VideoPro pilihan casingnya nggak terlalu heboh, tapi lumayan). Jaman sekarang, hampir semua casing ada USB/audio/firewire ports di front panel-nya. Ingatkan/tanyakan agar port-port tersebut diaktifkan (dihubungkan ke motherboard), kalau kelupaan nanti bisa repot hubungin sendiri, bisa-bisa ngerakit ulang.
  11. Tanya soal warranty, berapa lama ngerjainnya (biasanya sekitar 1 jam, tergantung sikon).
  12. Sambil nunggu komputernya selesai dirakit, bisa: pergi ke foodcourt dekat carpark, main Winning Eleven di toko-toko yg ada di Lt. 1, ke ATF liat-liat accessories (konon disarankan untuk tidak membeli di ATF, mahal, but ymmv), dsb. tapi jangan balik ke Bugis Junction: kejauhan bo. Kalo ke OG sih masih bisa kali ya.
  13. Kira-kira sudah mau satu jam dan belum ditelepon, balik ke pick up point, mungkin sudah/hampir selesai tapi belum ditelepon.

Oh iya, sebelum secara fisik pergi ke SLS, mungkin bisa ke website berikut untuk mendapat softcopy pricelist dari beberapa toko, lumayan aktual:
http://resources.vr-zone.com/sls/indexpdf.php

Selamat belanja.