Berpapasan dengan Masa Lalu
Baru delapan hari yang lalu aku terpikir seorang sobat yang cukup akrab tiga tahun silam. Seorang pejuang yang untuk kesekian kalinya terhempas dalam badai familiar yang senantiasa asing. Dia melepaskan pegangan jari-jari yang diberi pancang "harapan" (entah tentang apa), untuk kembali digusur buldoser bergemuruh "gile gak nyangka." Lalu mempreteli [hampir] semua yang berlabel "hubungan." Dengan sedikit paksa.
Atau semua di atas bisa salah, cuma sekedar analisa sok mahfum. Atau, kami tak sekarib yang kupikir. Bisa juga.
Yah, apapun itu. Aku kangen kisah dan buah pikirmu, pejuang.
Kemarin, bagian dari masa lalu yang lain muncul. Berpapasan namun tak kenal. Berpandangan tapi hanya dilengas. Malah sejujurnya aku tidak yakin, apakah itu benar dia: kilas belasan tahun. Di Singapura. Masa kini.
Tapi negara ini mini. Dibanjiri eksodus pencari kesempatan-lebih-baik dan kesembuhan-non-ilahi-namun-lebih-manusiawi. Kenapa mustahil?
"Hai, masa lalu. Kenalin, ini masa kini. Enjoy your stay, but don’t be too long :)"