July, 2006Archive

Jul 06

Tulisan saya kemarin di-reply oleh sepupu saya yang masih belia (hehe):

tp.. namanye esmosi.. masa ada posting noel kita, kite diem aje.. embat balekkk broo!! ^O^

Karena panjang, reply saya berikut ini jadi tulisan yang baru:

Istilah "darah muda" atau "folly of one’s youth" itu ada bukan untuk menyudutkan orang-orang yang masih muda, tapi memang sejalan dengan waktu, ketika melihat ke belakang, sungguh kita bakal sering ngomong: "Duh, coba dulu gue gak gitu ya."

Itu pertama. Yang kedua, soal korespondensi di Internet, khususnya yang bisa dibaca publik (bukan japri) seperti blog dan forum/milis. Kita kadang lupa/cuek bahwa setiap post/reply yang kita buat itu konsumsi publik. "Everyone is entitled to her own opinion" itu benar tapi "Everyone is also to be held accountable to what she said or did". Apalagi dengan blog,

Sudah beberapa lama ini ada beberapa pihak yang "memusuhi" blog. Kenapa? Karena ternyata blog itu influential. Blog-blog yang populer bisa memperoleh 10-50 ribu pembaca setiap posting-nya. Ini baru blog individual. Tapi apa artinya sih 50 ribu dibanding jutaan pembaca, katakanlah, koran Kompas? Banyak artinya. Dalam blogosphere (dunia blogging), pembaca blog biasanya membaca banyak blog sekaligus. Kalau dia seorang blogger juga, maka hal-hal yang dia anggap menarik akan dia post dalam blognya. Begitu juga orang-orang yang membaca blognya. Demikian seterusnya sehingga dengan efek berantai, orang lain yang walaupun hanya pembaca pasif (bukan blogger), bisa menangkap "trend" atau opini "publik" tentang suatu hal. Sebuah blog dengan "hanya" 50 ribu pembaca sama sekali bukan suatu hal yang enteng.

Jadi kenapa "dimusuhi"? Ada dua alasan. Yang pertama mirip dengan media konvensional biasa, nggak setiap orang suka akan kolom gosip atau berita yang bisa merugikan kepentingan (perusahaan)nya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tentunya hal ini lumayan jelas bagi kita. Yang kedua, blog nyaris tidak diatur/teregulasi. Lho kok ngomong soal kontrol, sama dong alasannya dengan yang pertama? Nggak juga, ini dia yang sampai saat ini masih (dan akan terus) menjadi daerah abu-abu: blogging itu tidak sama dengan jurnalisme.

Banyak orang ngeblog untuk berbagai tujuan, ada yang sekedar untuk curhat (kepada siapa? teman-teman doang? lha kok gak di-protect sehingga hanya bisa dikonsumsi kalangan sendiri aja), ada yang menulis jurnal kesehariannya, ada yang menulis topik-topik khusus, ada juga yang secara langsung berkeinginan untuk membentuk opini publik. Khusus untuk yang terakhir, membentuk opini publik, ini nggak perlu melulu mengenai topik-topik besar: perang, politik, gempa, dsb. Yang saya maksud dengan membentuk opini "publik" ini bisa saja untuk masalah-masalah pribadi atau kelompok. Krusialnya, karena yang nulis adalah individu, masalahnya individu, awalnya ditujukan untuk konsumsi individu/kelompok, plus "everyone is entitled to his own opinion" yang tadi, banyak yang menganggap ini kan "terserah-terserah gue dong, gue yang nulis, sapa suruh elo baca" dan efek akhirnya ya itu, "Duh, coba dulu gue gak gitu ya" yang tadi juga.

Yang menjadi masalah utama menurut saya adalah: blog kita itu (bisa) dibaca oleh publik. Ketika sesuatu menjadi publik, dia menuntut atau memiliki kandungan tanggung jawab lebih daripada hal-hal yang sifatnya private. Inilah inti alasan yang kedua: kurangnya kepedulian akan rasa tanggung jawab untuk setiap post yang dibuat. Bandingkan dengan jurnalisme, you get the picture.

Wah repot bener kalo gitu, saya kan ngeblog buat hobby aja, kok musti diatur-atur kaya gitu?

Nggak juga, seperti yang saya bilang di atas: ini masih (dan akan terus) menjadi daerah abu-abu. Tentu saja blogging tidak akan pernah 100% sama dengan jurnalisme. Yang mau saya imbuhkan di sini cuma: be accountable, gunakan "akal sehat", pelihara "emosi" yang baik - dalam sikon apapun. Itu adalah blog Anda SENDIRI, tulisan Anda SENDIRI. Yang akan dibaca oleh banyak orang. Yang akan mempengaruhi banyak orang. Yang akan mempengaruhi diri Anda sendiri juga.

Jul 05

Sekitar tahun 2000-2001, ketika masih aktif di forum diskusi milik lembaga pendidikan tempat saya dulu bekerja, saya sempat terlibat diskusi hangat "melawan" seseorang yang menurut saya melakukan pemburukan nama baik salah satu staf (yang senior) di bagian lain. Waktu itu masalahnya sendiri dapat diselesaikan dengan cepat. Namun demikian, seorang teman sempat nyeletuk: "Elo sih Get, war melulu," yang sedikit-banyak mengindikasikan adanya damage yang terjadi.

Lalu saya mendapatkan sebuah saran yang sangat baik oleh salah seorang (bapak) senior yang masih saya ingat sampai sekarang:

"Jika menerima post yang membawa muatan negatif, jangan segera dibalas. Biarkan post itu selama 2 jam. Setelah 2 jam, baru kunjungi kembali post tersebut. Jika saat itu di hati masih terasa panas, terlepas siapa benar atau salah atau tidak 2-2nya, tunggu lagi selama 2 hari. Jika setelah 2 hari keadaannya masih sama, tunggu selama seminggu lagi."

Walau kadang saya suka "iseng", nasihat ini termasuk berjasa menyelamatkan saya dari beberapa insiden yang tidak perlu (dan memang tidak terjadi).

Terus terang, post ini saya tulis untuk mengingatkan diri saya sendiri. Beberapa perkara yang saat ini menurut saya sulit dimengerti, sementara ini mungkin yang terbaik adalah untuk tidak memperoleh penjelasan.

Atau bahkan jika "sementara" ternyata "selamanya", well.. I did say that I’m just a pail, didn’t I?

Bertahanlah teman, engkau berhak memiliki jeda, sepanjang apapun itu.

Jul 03

Think About His Love
(c) Walt Harrah

Think about His love
Think about His goodness
Think about His grace
That brought us through

For as high as the heaven’s above
So great is the measure of our Father’s love
Great is the measure of our Father’s love

How could I forget His love
How could I forget His mercy
He satisfies, He satisfies
He satisfies my desires
Great is the measure of our Father’s love

Download Lagu (MP3, self-recorded, unedited, 1.64 MB)

Beberapa minggu terakhir ini adalah minggu yang pernuh berkat, secara rohani khususnya. Tuhan mengijinkan saya (lebih tepatnya: membuat saya) untuk masuk ke dalam posisi seorang observer.

Yang saya banyak (dan sedang) belajar adalah: seorang observer haknya nol untuk membuat penilaian. Apalagi penghakiman. Apalagi self-righteousness. Seorang observer adalah seorang intercessor in the making. Sebuah jembatan. Sebuah ember, kadang untuk menampung curhat, tapi seringkali cukup untuk sekedar ada, standing by, untuk menangkap gesture yang samar.

Setelah Nabi Elia menumpas penyembah-penyembah Baal, Ratu Izebel dengan amat berang bernazar untuk menghabisi nyawanya. Singkat cerita, Elia lari. Dalam keletihan dan kegundahannya (dan mungkin kekesalannya), Elia disapa oleh Tuhan: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku."

Tuhan seolah tidak menggubris dan malah menyuruhnya pergi untuk menyelesaikan tugasnya. Namun suatu kekuatan ternyata diberikan Tuhan: "Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia."

(Kotbah Bpk. Paul Wenas, diambil dari 1 Raja-raja 19:1-18. Kebaktian Pemuda GBI Api Kemuliaannya, c.a. 1997-1998).

Sobat, lagu ini bukan kotbahku, atau untuk mengguruimu. Jauh dari hal itu dan sejenisnya. This song is just one of my (hopefully gentle) gestures, that I’m somehow here, with the other 6,999 people. That we’re surviving together, struggling together. And particularly: that you’re not alone. And yes, I’m not talking about God (He’s Immanuel). We are somehow here.

Just think about His love. Together.