January, 2006Archive

Jan 17

Pagi tadi, pemilik apartemen yang sejak 1.5 tahun lalu kami sewa memberitahukan bahwa mereka memerlukan apartemen ini kembali awal bulan April mendatang, jadi kami harus pindah. Kami (saya dan istri) sudah menduga ini akan terjadi, cepat atau lambat. Bahkan, ketika pindah dari apartemen yang lama ke tempat ini, kami sejak awal pun sudah ’siap’ jika harus pindahan lagi. Tentunya ini berlaku bagi siapa saja selama statusnya masih ngontrak.

Masalahnya, setelah bulan demi bulan berlalu, kami jadi terlanjur jatuh cinta dengan rumah ini. Lokasinya memang cukup strategis (daerah Holland V, 1 bus stop dari Commonwealth MRT, dekat ke Orchard dan CBD area), rumahnya sendiri yang walau mungil namun sangat nyaman untuk ditinggali (si Ciecie pemilik rumah ini sudah merawatnya dengan sangat rapi), dekat dengan banyak sahabat di gereja, dan lebih dari 60% masa pernikahan kami dihabiskan di rumah ini (1.5+ dari 2.5+ tahun :). Jadi, walaupun pindahan dan mencari tempat baru itu repot, bukan ini alasan yang membuat kita ‘males’ pindah.

Sebenarnya saya dan istri masing-masing sudah beberapa kali pindah rumah. Saya sendiri sejak kecil sudah 10 kali pindahan. Ada yang nyewa, ada yang beli (nyokap yang beli), bahkan pernah juga ngontrakin ke orang lain. Jadi mestinya sih sudah biasa.

Benar gitu, udah biasa? Nggak juga. Saya nggak pernah ‘biasa’ untuk pindah.

Sepanjang ingatan, setiap kali pindah, dari tempat yang lebih baik maupun ke tempat yang lebih baik, selalu meninggalkan rasa kehilangan di hati. Kadang sedikit, seringkali banyak. Dan setiap kali juga, banyak hal yang biasanya tidak begitu kita hiraukan, menjadi begitu bermakna ketika kita ada di tempat yang baru. Ya, juga ketika tempat barunya lebih baik. (Sampai sekarang saya kadang masih suka kangen makan Ban Mian dekat stasiun MRT Khatib, nonton malem-malem di GV dekat North Point Yishun, dan, ya, bahkan perjalanan dari Tg. Pagar ke Khatib yang super jauh itu. Dan daerah terbaik untuk tinggal di Singapore buat saya masih Balestier :).

Sejak pagi tadi saya banyak diam mikir. Saya telepon istri saya yang hari ini libur di rumah, dan responnya, "Saya udah duga." Hmm.. lumayan, bener kan tebakan saya kalau kami ’sudah siap’. Tambahnya, "Mungkin karena kita ‘jorok’ kali." Jeeehehe… nggak deh, walaupun saya akui kami nggak seteliti si Ciecie dalam merawat rumah, imvho kami masih jauuuuuuuhh dari jorok :D Anyway si Koko memberikan alasan yang dapat dimaklumi, singkat kata bukan untuk tawar-tawaran. Saya sendiri sebenarnya tidak keberatan untuk tambah uang sewanya, karena kami memang suka dengan rumah ini. Tapi saya nggak ingin membuat si Koko jadi serba salah, ditambah hubungan kami selama ini baik-baik saja dan 2.5 bulan notice itu sangat fair dan cukup untuk mencari tempat yang baru.

***

Entah kenapa pindahan kali ini membawa saya untuk berpikir banyak tentang perpisahan. Dalam banyak impresi, keduanya sangat mirip dan berhubungan. Mungkin banyak juga orang yang selama hidupnya jarang pindah-pindah, baik rumah, sekolah kantor, pekerjaan, dsb. Namun satu hal yang pasti, semua orang dalam hidupnya mengalami sekian banyak panggung perpisahan. Mulai dari lulus sekolah - pisah dengan teman2 akrab sejak kecil - sampai kematian anggota keluarga yang begitu dekat. Nggak bisa dihindari.

Ya, nggak bisa dihindari. Begitu nggak bisa dihindarinya sampai setiap orang bisa mengidentifikasi dirinya dengan perpisahan dan rasa kehilangan. Tidak perlu saya uraikan, siapapun mengerti apa artinya kehilangan. Bahkan bukan sekedar mengerti, banyak perpisahan yang begitu berat untuk dihadapi sampai beberapa orang memilih untuk lari sama sekali. Dari membenamkan diri dalam pekerjaan, mencari pelarian dalam hobby/obat, sampai.. bunuh diri.

Berpikir lebih jauh lagi, kehilangan itu terjadi karena tadinya ‘memiliki’. "Sekolahku, rumahku, motorku, mobilku, hobbyku, uangku, sobat karibku, pacarku, suamiku, orang tuaku, anakku yang masih bayi, cucu kesayanganku, pekerjaanku, jabatanku, tangan kananku yang harus diamputasi, rambutku yang rontok karena kemoterapi, payudaraku yang harus diangkat, dsb…. jawaban doaku.."

Hal-hal yang sebelumnya bukannya tidak kita hiraukan, tapi jarang kita perhatikan (dan syukuri).
Hal-hal yang sangat berharga (dan kita syukuri).
Anugrah yang tidak layak kita terima, namun kita ‘miliki’.
Bahkan yang tidak kita miliki, namun kesempatan untuk itu tidak ada sama sekali - Kesempatan yang ‘hilang’.

***

Berpikir lebiiih jauh lagi, kita nggak pernah benar-benar memiliki sesuatu. Kita sih punya ‘rasa memiliki’ (sense of belonging), pasti. Beberapa hari ini saya merenungkan secara serius ‘himbauan’ dari CEO di kantor, "We need fiercely loyal employees." Setelah melewati ‘roller coaster’ yang serem-serem-asyik di perusahaan sebelumnya, saya terus terang sedikit skeptis tentang "fiercely loyal" di perusahaan. Bukan karena saya orangnya ‘kurang setia’, justru sebaliknya :) Yah karena memang perpisahan - that’s sense of losing - selalu meninggalkan rongga kosong di dada. Paradoksnya, seperti berusaha untuk lebih membumi, perkataan ini lalu disertai dengan, "Of course we’re not talking about lifetime employment here. It’d be too much to ask." It would? Hehe.. déjà vu.

Tapi, selama kita hidup di dunia ini, segala terms dan aturan yang kita hidupi memang sifatnya temporer. Hidup itu sendiri temporer. "Setia gila-gilaan" yang diharapkan pun temporer. Aktif menjadi pengerja di gereja sifatnya temporer. Memimpin kelompok sel yang sama proyeksinya 1-2 tahun saja. Pernikahan puun.. temporer - Sampai maut memisahkan :)

Jadi gimana, supaya nggak mengalami kehilangan, lebih baik nggak usah punya rasa memiliki? Hehe, klise, bukan barang baru. Saya yakin pasti ini terulas dengan menyeluruh di Filsafat 101.

Sejauh ini saya memilih untuk ‘menempel’ (getting attached) ketimbang ‘menjauh’ (getting detached). Buat saya, begini hidup jadi jauh lebih bermakna.

"Saya rindu di FA ini kita membagi hidup kita - sungguh-sungguh membagi hidup. Walaupun nggak tahu berapa lama kita bisa sama-sama di FA ini, 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun.. Keinginan saya biarpun kita nantinya berpisah, kita tetap sungguh-sungguh menjadi saudara karena hidup yang kita bagi ini. Sama halnya dengan hidup yang kita bagi dengan rekan-rekan di FA kita yang sebelumnya."  Ini keputusan yang saya pilih menutup FA terakhir tahun lalu.

Ini juga langkah yang akan saya ambil di perusahaan saya yang sekarang, sebuah perusahaan yang baik. Dan sebuah langkah yang besar.

***

Soal pindahan rumah, ah ini juga salah satu keputusan yang harus diambil. Keputusan apakah saya akan bersedih dan tidak terima atas kehilangan yang akan kami alami, atau bersyukur karena kekayaan pengalaman baru yang akan Tuhan ijinkan terjadi di masa mendatang. Dan keputusan untuk percaya bahwa tahun ini adalah tahun kesaksian gereja dan tahun mukjizat. Dan, oh ya, berkat 100 kali lipat.. ^_^