Saya termasuk sering mengambil peran sebagai devil’s advocate - karena berbagai alasan/tujuan.
Kadang hanya untuk berdebat semata-mata untuk berdebat (debating for the sake of debating). Di waktu-waktu lainnya karena ingin melengkapi pembahasan dengan cara counter arguing. Atau bahkan ‘hanya’ supaya suasana diskusi lebih hidup - seperti yang saya (sadar-nggak sadar) sering lakukan di kelompok sel.
Dalam beragam forum, online dan offline. Email, milis, forum, diskusi verbal, dsb.
Dengan berbagai metode/pendekatan. To the point, mengarahkan, tajam, halus, ngasal, tactful, pelan-pelan, nyaring, dsb.
Malam ini saya dapat pelajaran. Mahal: the hard way.
Malam ini rasanya tidak terlalu ada hubungan dengan devil’s advocating. Malam ini lebih tepat disebut loud mouthed. Dua-duanya: ofensif dan literally nyaring.
Dulu saya pernah dikenal sebagai orang yang jutek, ‘nakutin’ (males deket2/urusan sama si gete). Teman-teman masa SMA saya adalah saksi-saksinya. 7-10 kemudian di saat bertemu kembali di suasana reuni, kadang masih terasa gap yang disebabkan juteknya saya dulu - even after we laughed it off (so called) together. Terbilang wajar. After all, harms were done. Akibatnya, a lot of patch works. Banyak tambalan. Tapi paling tidak saya masih termasuk beruntung, teman-teman saya yang sama itu punya hati besar untuk nggak mempersoalkan hal-hal yang lalu. Sedangkan teman-teman yang memang dari dulu sudah dekat punya cara sendiri menghadapi saya. Saya dulu sering berpikir, seandainya saya bisa kembali ke masa lalu dan bertemu diri muda saya di saat dia sedang bertingkah, I’m gonna shout this outloud to him: "Whaddaya think you are!? Some big shot, huh? Only you have the hardest problem, huh!??" and give a good knock on his head so that he can get back to his senses and starts respecting his peers.
Malam ini seperti deja vu. Saya beraksi seperti big shot. Telaknya, terhadap orang yang sebenarnya bisa dibilang paling sabar. Walaupun mungkin diawali dengan "Pardon me, but I think you…" memotong pemaparannya, namun pada dasarnya: self-justifying, "What about me? What about my problem?" seberapapun baik/benar intensinya.
Setelah selesai membuka mulut, keheningan yang sama terjadi dalam ruangan - sama seperti saat-saat yang dulu, saat-saat di mana aku ingin menggetok kepala si muda supaya dia sadar dan belajar menghargai rekannya.
Malam ini aku (harus) belajar (lagi). I realized my mistake. Being unfair. Being ridiculous. Being loud. Being harmful. Being stubborn. Forgiveness had been asked, and graciously given. But like then: another patch. Painful lesson.
Awalnya aku ingin menaruh kesalahan pada keseringanku menjadi devil’s advocate. Tapi aku tahu, sudah saatnya jujur akan kelemahanku sendiri. Dan belajar mengendalikan lidahku. Dan berdoa - karena ribuan kali kucoba sendiri tak ada hasilnya. Tapi untunglah:
"Aku pikir Dia sabar sekali padaku." - Pendekar Kelana