Jul 08

Baru delapan hari yang lalu aku terpikir seorang sobat yang cukup akrab tiga tahun silam. Seorang pejuang yang untuk kesekian kalinya terhempas dalam badai familiar yang senantiasa asing. Dia melepaskan pegangan jari-jari yang diberi pancang "harapan" (entah tentang apa), untuk kembali digusur buldoser bergemuruh "gile gak nyangka." Lalu mempreteli [hampir] semua yang berlabel "hubungan." Dengan sedikit paksa.

Atau semua di atas bisa salah, cuma sekedar analisa sok mahfum. Atau, kami tak sekarib yang kupikir. Bisa juga.

Yah, apapun itu. Aku kangen kisah dan buah pikirmu, pejuang.

Kemarin, bagian dari masa lalu yang lain muncul. Berpapasan namun tak kenal. Berpandangan tapi hanya dilengas. Malah sejujurnya aku tidak yakin, apakah itu benar dia: kilas belasan tahun. Di Singapura. Masa kini.

Tapi negara ini mini. Dibanjiri eksodus pencari kesempatan-lebih-baik dan kesembuhan-non-ilahi-namun-lebih-manusiawi. Kenapa mustahil?

"Hai, masa lalu. Kenalin, ini masa kini. Enjoy your stay, but don’t be too long :)"

May 08

Hehehe beneran cuman clingak-clinguk duank, ketepu yah :D
Dah lama gak ngeblog, sampe lupa kaya gimana gaya ngeblog ogut sendiri. Sibuk banget di kantor, herannya makin digempur makin semanget sekaligus makin banyak aja kerjaannya. Ntaran dah kapan-kapan diupdate lagi.

Atau mungkin update dikit dah bagi yang belum tahu: GT & Siska baru beli rumah. (Lagi proses sih).

Ta-ta.

Dec 26

Siapa yang pernah dengar "kecoa busuk" diumpatkan secara live? Maksudnya, bukan baca dari buku atau dengar di TV. Ada? Ada? Coba ngacung. … nggak ada?

Gimana dengan "anjing"? Ya, ya, selain kamu yang di sana, siapa lagi? Ya, ya, wah banyak ya. .. Hah gimana..? Dulu juga sering? Malah lebih kasar? Oh iya, iya *manggut-manggut*.

Konon kata "anjing" sudah biasa dikumandangkan di Bandung. Itu mah tidak kasar atuh.

Tapi kali ini saya bukan mau membahas tentang umpatan atau kata-kata kasar, melainkan tentang beda sinetron dengan film layar lebar Indonesia.

Jadi ceritanya kemarin ini saya ke Mustafa menemani ibundah tercintah dan sepupu yang sedang ada di Singapura. Kenapa ke Mustafa, saya sendiri juga kurang jelas. Di sana ketemu antena yang di sampulnya ada stiker gede bertuliskan "Receive Indonesian channels, TV2 and TV3. Only in Singapore." Setelah mendapat konfirmasi kalau barang bisa ditukar jika tidak bisa dipakai, saya beli juga. Sebenarnya 2 tahun lalu saya sudah beli yang pakai listrik dan ada boosternya. Cuma, tetap banyak semutnya. Mengingat sedang banyak penggemar sinetron, saya mau mencoba antena baru.

Ternyata berhasil. Semutnya hilang. Penonton tidak kecewa. Antena tidak perlu dikembalikan.

Mutiara, Safira, Cahaya, Kasih. Dari jam 7 malam (kalau nggak salah) sampai 11:30, di RCTI. Sinetron berbeda dari production house yang sama (kalau nggak salah lagi).

Saya? Ya saya ikutan nonton lah.

Gimana pengalamannya setelah sekian lama jarang banget nonton TV dan sekarang langsung dibombardir dengan sinetron Indonesia? Yah.. gimana yah. Yah.. begitulah. Hehe.

Tadi sempat chat dengan dua rekan (yang tidak saling kenal di session paralel yang berbeda) di tengah-tengah kegiatan saya mencari ilmu (baca blog) sambil nonton TV. Kebetulan Natal ini saya di rumah saja. Ngaso, begitu.

O iya.. Merry Christmas dulu doong…

Kembali ke nonton TV.

Iya, heran, kenapa anak-anak muda (SMP-SMA) sekarang digambarkan tukang marah-marah, terlalu serius soal cinta, selingkuh, patah hati, dan terhadap dirinya sendiri. Akting yang over. Plot yang gampang tertebak. Twist yang sama gampangnya diduga. Paparan yang kelewat gamblang. Membodohi dan menganggap bodoh penontonnya.

"Sinetron. Smarter than YOU." Kira-kira begitu yang saya dumelkan pada dua rekan chatting saya tadi.

Dan.. "Kecoa busuk, keluar kamu dari rumah ini!"

Oh. My. Goodness. "Kecoa busuk".

Seingat saya mobil-mobil yang dipakai berplat B menandakan setting berada di Jakarta. Saya sejujurnya nggak tahu apakah di daerah lain "kecoa busuk" itu salah satu cercaan kemarahan yang favorit. Tapi sejak lahir saya tinggal di Jakarta, berapa kali ya saya pernah mendengar serapah dengan kata ini? Hmm, NOL. Nggak pernah. Sebentar, saya merem dulu.

"Rotten cockroach, get out of my house!???" Rotten cockroach?????? Aarrrgh tidaaaaak…. terlalu inovatif buat otak saya untuk memproduksi kata-kata ini seandainya saya marah sekali. I pity the actors.

Di sisi lain, saya menikmati momen-momen ketika pemain yang kawakan seperti Meriam Bellina berceloteh dengan kespontanan yang alami, disertai dengan slang-slang jadul yang sudah langka terdengar. Tampaknya kerangka besi sinetron yang kaku tidak menjadi kungkungan baginya. Atau waktu pemain-pemain muda ‘beruntung’ mendapatkan karakter yang cocok dengan diri mereka sehingga lebih ‘mudah’ diperankan.

Kenapa tidak "Anjing, keluar luh dari rumah ini!" kalau memang marah? Itu kan lebih realistis. Ya, ya, saya mengerti ini mungkin tata tertib di dunia persinetronan.

Tapi kenapa "gue sayang sama elo, tau nggak sih loe!??" dengan tampang over serius oleh ABG boleh hadir di sinetron? Entahlah, mungkin cuma preferensi yang berbeda. Mungkin dulu semasa SMP/SMA dulu saya sendiri juga begitu ya. Rasanya aneh juga kalau biasanya menggunakan "gue-elo" tiba-tiba waktu mau nembak, nggak angin nggak hujan, bilang "saya suka sama kamu." Hehehe.

Sidetracking sedikit. Kelihatannya tiap angkatan memang punya panggilan khusus yang berbeda. Angkatan di atas saya (maksudnya 5-10 tahun di atas), biasanya langsung memanggil nama dan "aku/saya-kamu". Atau yang sudah biasa/lama di Singapore dengan "dear" atau "honey" ("darling" kelihatannya jauh lebih di atas lagi). Sedangkan angkatan saya ke bawah, pakai "yang", "sayang" dan "aku/saya-kamu" atau nama kecil/sayang kalau mau cute. Kelihatannya yang lebih di bawah lagi menggunakan "yang/sayang" dan "gue-elo". Buat saya, "Yang, elo udah makan belom," itu teh kasar pisan.. Yah memang beda-beda eui.

Sekarang tentang film layar lebar. Naaah.. kalau layar lebar, film-nya asik-asik. Dijajarkan dengan sinetron, seperti langit dan bumi. Lebih relevan, plot dan twist lebih nendang, punchline, obrolan dan, ya, umpatan lebih fresh dan realistis. "Anjing, jangan kabur loe!!" tidak diganti dengan "kura-kura keparat" atau sejenisnya. Kebayang nggak sih kalau kepala preman Kemanggisan marahnya pakai "keledai laknat??" Bisa turun tahta digebugin anak buahnya tuh. Nggak sekalian aja "baling-baling bambu.."

Selama dua hari ini antena baru lumayan berjasa. Film "Jomblo" yand diadaptasi dari novel karya Adhitya Mulya diputar kemarin siang dan "Catatan Akhir Sekolah" baru saja selesai. Cerita CAS mungkin masih sedikit tidak realistis namun tetap fresh. Sedangkan "Jomblo"… chat partnerku tadi bilang novelnya ada di Library nih. Kocak abis. Dan fresh. Dan realistis. Dan tidak menganggap audiensnya bodoh.

Sebenarnya saya nggak berharap yang muluk-muluk. Cerita sinetron boleh klise, itu-itu lagi, bahkan tidak realistis sekalipun. Asal dialognya fresh dan membumi, saya sudah cukup puas. Contohnya "Doel Anak Sekolahan".

Mungkin juga keadaan sinetron Indonesia sekarang sudah begitu komoditif. Menurut penuturan Lidya Kandou pada anaknya yang pemeran sinetron, main film jaman sekarang jauh lebih mudah daripada jaman dulu. Satu-dua kali take, bungkus. Sedangkan dulu, satu scene bisa puluhan kali take agar sempurna. Yah maklum, sinetronnya running setiap hari berdurasi 1.5 jam termasuk iklan.

Coba kalau ada film layar lebar yang menceritakan kehidupan seputar pembuatan sinetron Indonesia. Mudah-mudahan bisa menendang tepat di pantatnya dengan keras.

Dec 16

Jam 11:35 lagi. Malam. Crazy deadline, not to mention crazy client. And crazy bosses. Oh well, the bosses are not really that crazy, everyone’s just getting pressurized. Anyway memang nggak ada yang maksa gue harus pulang jam segini. Cuma, seperti biasa: nanggung. Uh, harus cepat berberes, kalau nggak bisa ketinggalan MRT lagi.

"What, you’re going to stay back again tonight? C’mon, Hendra, it’s your last week. Just do as needed and don’t overdo it!" saran teman-teman setim gue tadi sore. Mereka  semuanya sudah tahu hari terakhir gue adalah Jumat ini. Ya gue cuma bilang, lihat aja ntar, begitu.

Wah, untung bisnya pas datang. Thanks, Lord. And now I hope the last train will wait for me, too.

Well, it does. 4 more minutes.

SMS atau nggak. SMS atau nggak. SMS.. atau nggak.. Nggak aja kali ye, ntar dia mikir macem-macem lagi.

Tapi.. SMS aja kali ye, biasanya jam segini juga masih SMS-an.

Ah elo Dra, jadi pusing-pusing begini. It’s not like you have some crush on her or something. She’s just cute. And although you do like girl being cute, you’re best buddies. Best buddies SMS each other ’til late at night without worrying mistakening the other’s feeling. Not Ratna, for sure. She’s just nice… and cute. Not everyone’s cute, but ‘my’ type of cute.

Heran, kepikiran dia terus belakangan ini. Apa karena gue mau keluar ya? And for some reason, we just got closer than before. Tapi padahal tiap minggu di gereja juga ketemu. Atau karena gue bakal pulang Sabtu depan? I miss her already? Miss her for what??? Miss her like I missed hanging out with Anto, Juned and Shelly?

Mereka juga sih rencana pulang nggak bilang-bilang. Jadinya tinggal gue berdua yang masih tertinggal. Hehe memang kampungnya beda sih.

Oh well, the train’s here. I’m too tired to type on this slower-than-yours phone. And to think and worry too much tonight. Let’s not do that. Maybe I’ll just drop by some florist before work tomorrow, and schedule a bouquet for her a week after I leave. No sender’s name, of course. This way I can cheer her up for the loads of work she needs to get done. Let her have some secret admirer or guess whether I or Anto send it for her.

Yeah, seems like a good plan. Hoaeem..

Dec 14

"Ratna, it’s superb! I really like the color composition. You are really talented! It would be perfect, however, if the logo is bigger and the fonts are changed to something more formal. Do you think you can change them and have it ready for the presentation tomorrow?"

Yah, sudah hafal deh: pasang tampang ceria, muji-muji, manggut-manggut, kritik, minta halus tapi maksa, jadinya harus besok. Nggak mungkin dong aku bilang "no can do, boss?" Kalau dipecat susah nyari kerjaan selama masih pegang S-Pass begini. Resiko.

Ambil sisi bagusnya, untung presentasinya bukan pagi. Dan lusa aku sudah cuti menemani Tasya yang dikirim training ke sini oleh kantornya. Jadi juga si ucrit datang ke Singapore. Ayo, semangat!

"Hehe disuruh ganti lagi ya? Lain kali bilang aja nggak mau.." celetuk Hendra, satu dari empat orang Indonesia di kantor ini. Hei, satu hal lagi yang patut disyukuri, walau gaji tidak fantastis, paling nggak I have great colleagues! Hmm, menghibur diri sendiri nih, hihi.

"Iya maunya sih gitu, tapi gue kan karyawati yang baik, nurut atasan," ujarku dengan tampang ’sesuci-sucinya’.

"Hahaha.. paling sejam lagi elo udah ngegerendeng sendiri, Rat," cengir Hendra, "Tapi ntar gue beliin cappuccino deh kalau elo udah mulai suntuk."

"Asiiik… bener loe yah, janji." Hendra cengengesan lagi.

Memang paling enak punya temen perhatian model si Hendra ini. Anaknya ngocol tapi baik. Di satu sisi pemikir berat, di sisi lain kadang suka bikin bingung dengan kecuekannya. Namun dia nggak pernah marah atau sebal, minimal denganku. Dimintai tolong apa saja mau. Padahal orangnya tipe malas-malasan begitu.

Platonic.

Heh, platonic? Hiiy serem. Masa sih aku dan Hendra punya hubungan yang platonic?? "It’s complicated," begitu? Hahaha, nggak banget deh. Masih terlalu dini untuk punya relationship dengan cowok. Yap, terlalu dini.

Hmmph, tuh kan jadi keingetan Niko lagi. Udah ah, konsentrasi kerja. Ingat, sebentar lagi Tasya datang, bisa error bareng-bareng. Dan mungkin aku kenalin aja ke Hendra, kayanya cocok.